
The New Lockdown 2.0
Apakah kamu menyadari satu hal dari apa yang terjadi belakangan ini mengenai perang? Kalau lihat kondisi sekarang, banyak hal mulai mengarah ke satu pola yang mirip.
Di Eropa, negara seperti UK sangat bergantung pada impor minyak dan gas. Tanpa itu, risiko pemadaman listrik bisa terjadi. Dan tentunya efeknya tersebut bisa bikin aktivitas masyarakat terbatas. Pemerintahnya sudah mulai menyerukan untuk berhemat energi.
Sama, di beberapa negara Asia seperti Jepang dan Korea, sudah mulai ada pengurangan jam-jam kereta beroperasi dengan alasan untuk menghemat energi. Mobilitas masyarakat pun sedikit terhambat.
Bahkan tetangga dekat kita, Filipina, baru saja kemarin mengumumkan bahwa negara mereka mendeklarasikan “National Energy Emergency” alias cadangan energy mereka sudah hampir habis. Seruan untuk stay at home mulai berkumandang di Filipina.
Intinya saat ini di dunia mulai muncul narasi:
“Save energy, kurangi bensin, jangan travel, jangan naik pesawat, lebih baik di rumah saja. Stay at home.”
Hmmm. Stay at home. Seperti familiar.
Aku orang yang muak dengan konspirasi teori.
Tapi kadang ada beberapa pola yang ga bisa langsung kita judge, "Ahelah sipaling konspirasi lu akh.”
Remember this is our life. Kita ga bisa menutup mata gitu aja. Masa depan kita ya.. Di tangan kita sendiri.
Mereka Tahu Menebarkan Ketakutan Lewat Virus Sudah Tidak Ampuh Lagi
Apakah kamu ingat, dulu. Ada Covid jenis A B C D. Awal-awal kita tergiring dan takut. Dan karena kita takut, kita benar-benar nurut apa yang diperintahkan. Disuruh stay at home, kita bener-bener stay at home. Disuruh tutup kantor/bisnis tempat kita bekerja, bener-bener kita ga kerja. Ga sedikit juga sampai akhirnya bisnis colaps beneran karena ga beroperasi. Yang berujung PHK besar-besaran.
Lalu lama-lama muncul lagi jenis Covid E F G H I. Tapi kemudian masyarakat sadar bahwa jika dibiarkan lockdown terus maka perekonomian hancur. Lama-lama masyarakatpun muak dan tidak mau mendengarkan.
Itu yang mereka rasa. Kecaman virus sudah tidak lagi ngaruh.
Maka dari itu sekarang kekurangan bahan bakarlah yang menjadi alasan mereka untukw mengontrolmu.
Solusi
Solusi supaya lockdown 2.0 tidak terjadi adalah tenangkan pikiran. Belajar dari kesalahan kita di 2020. Teguhkan hati. Jangan gampang langsung merasa takut. Karena kalau mereka sudah berhasil membuat kamu takut, kita akan nurut atas perintah apapun yang mereka mau: Lockdown, memberhentikan paksa bisnis, yang mana berujung ekonomi merosot dan kita semakin miskin. Itulah yang mereka mau: Reset dunia besar-besaran. Yang super miskin dibikin mati. Dengan alasan supaya dunia isinya ga terlalu banyak sampah. Pertanyaannya adalah: Batas "super miskin" bagi mereka itu, yang mana? Kadang kita ngerasa kita ga miskin-miskin amat. Tapi ternyata, ya miskin bagi mereka. Maka dari itu. Jangan mudah terhasut perintah. Jangan mudah dikontrol. Jangan mudah takut.
Jangan juga jadi berantem antar masyarakat. Ingat ini bukan warga vs warga. Ini adalah warga vs elite.
Semoga kita semua selalu dilindungi oleh Tuhan YME. Amin.
With Love,
Ka Lulu
The New Lockdown 2.0
Apakah kamu menyadari satu hal dari apa yang terjadi belakangan ini mengenai perang? Kalau lihat kondisi sekarang, banyak hal mulai mengarah ke satu pola yang mirip.
Di Eropa, negara seperti UK sangat bergantung pada impor minyak dan gas. Tanpa itu, risiko pemadaman listrik bisa terjadi. Dan tentunya efeknya tersebut bisa bikin aktivitas masyarakat terbatas. Pemerintahnya sudah mulai menyerukan untuk berhemat energi.
Sama, di beberapa negara Asia seperti Jepang dan Korea, sudah mulai ada pengurangan jam-jam kereta beroperasi dengan alasan untuk menghemat energi. Mobilitas masyarakat pun sedikit terhambat.
Bahkan tetangga dekat kita, Filipina, baru saja kemarin mengumumkan bahwa negara mereka mendeklarasikan “National Energy Emergency” alias cadangan energy mereka sudah hampir habis. Seruan untuk stay at home mulai berkumandang di Filipina.
Intinya saat ini di dunia mulai muncul narasi:
“Save energy, kurangi bensin, jangan travel, jangan naik pesawat, lebih baik di rumah saja. Stay at home.”
Hmmm. Stay at home. Seperti familiar.
Aku orang yang muak dengan konspirasi teori.
Tapi kadang ada beberapa pola yang ga bisa langsung kita judge, "Ahelah sipaling konspirasi lu akh.”
Remember this is our life. Kita ga bisa menutup mata gitu aja. Masa depan kita ya.. Di tangan kita sendiri.
Mereka Tahu Menebarkan Ketakutan Lewat Virus Sudah Tidak Ampuh Lagi
Apakah kamu ingat, dulu. Ada Covid jenis A B C D. Awal-awal kita tergiring dan takut. Dan karena kita takut, kita benar-benar nurut apa yang diperintahkan. Disuruh stay at home, kita bener-bener stay at home. Disuruh tutup kantor/bisnis tempat kita bekerja, bener-bener kita ga kerja. Ga sedikit juga sampai akhirnya bisnis colaps beneran karena ga beroperasi. Yang berujung PHK besar-besaran.
Lalu lama-lama muncul lagi jenis Covid E F G H I. Tapi kemudian masyarakat sadar bahwa jika dibiarkan lockdown terus maka perekonomian hancur. Lama-lama masyarakatpun muak dan tidak mau mendengarkan.
Itu yang mereka rasa. Kecaman virus sudah tidak lagi ngaruh.
Maka dari itu sekarang kekurangan bahan bakarlah yang menjadi alasan mereka untukw mengontrolmu.
Solusi
Solusi supaya lockdown 2.0 tidak terjadi adalah tenangkan pikiran. Belajar dari kesalahan kita di 2020. Teguhkan hati. Jangan gampang langsung merasa takut. Karena kalau mereka sudah berhasil membuat kamu takut, kita akan nurut atas perintah apapun yang mereka mau: Lockdown, memberhentikan paksa bisnis, yang mana berujung ekonomi merosot dan kita semakin miskin. Itulah yang mereka mau: Reset dunia besar-besaran. Yang super miskin dibikin mati. Dengan alasan supaya dunia isinya ga terlalu banyak sampah. Pertanyaannya adalah: Batas "super miskin" bagi mereka itu, yang mana? Kadang kita ngerasa kita ga miskin-miskin amat. Tapi ternyata, ya miskin bagi mereka. Maka dari itu. Jangan mudah terhasut perintah. Jangan mudah dikontrol. Jangan mudah takut.
Jangan juga jadi berantem antar masyarakat. Ingat ini bukan warga vs warga. Ini adalah warga vs elite.
Semoga kita semua selalu dilindungi oleh Tuhan YME. Amin.
With Love,
Ka Lulu